Kamis, 24 Oktober 2019

Pesona Wisata di Trowulan, Mojokerto Jawa Timur

Trowulan memang agak cukup asing di telinga saya karena yang lebih di kenal sebagai peninggalan Majapahit itu terlalu umum, Jawa Timur. Tapi, setelah coba mencari tempat yang cocok dikunjungi terutama bagi kita yang ingin melihat peninggalan sejarah, Trowulan adalah pilihan yang tepat. 


Berjarak kurang lebih 45 menit dari Kota Mojokerto, beragam candi peninggalan kerajaan terbesar Majaphit berdiri kokoh di sana. Ada candi Brahu, candi Tikus, Lawang Wringin, Candi Gentong dan candi lainnya dapat didatangi dalam waktu sekali jalan karena jaraknya dan tidak berjauhan.

Namun sayangnya, ketika berkunjung ke candi-candi ini, kita tidak akan mendapat informasi apapun kecuali hanya beroleh foto atau video karena tempatnya yang instagramable sekali. Tapi, informasi lengkap dari candi dan seluruh peninggalan Majapahit ini dapat kita peroleh di Museum Majapahit.


Ketika berkunjung ke Trowulan, aku hanya bisa melihat langsung beberapa situs peninggalan saja. Aku akan cerita lengkap ditulisan berikutnya. Tak bisa keliling seluruhnya karena memang ternyata di Trowulan sangat sulit mencari kendara umum untuk berjalan di sekitar Trowulan, adanya hanya bus antar kabupaten. Nah, jadi kamu hanya bisa sewa ojek pangkalan untuk mengantarkan sesuai tujuan. 

Mentari mulai menyengat, kami masih belum juga mendapat tukang ojek. Beruntunglah petugas hotel itu baik dan mengantar ke pangkalan ojek. Bapak-bapak paruh baya dengan cekatan menjemput. "Pak, kita ke Patung Buddha tidur ya, kataku". Motor melaju. Kamipun sampai di tempat tujuan yang sebenarnya hanya 6 menitan saja dari penginapan. 

Patung Buddha Tidur


Patung Buddha tidur ini merupakan ketiga terbesar setelah Thailand dan Nepal. Banyak orang berkunjung untuk berfoto atau hanya menemani anak mereka memberi makan ikan di kolam tempat Buddha tidur itu.


Setelah puas menikmati suguhan area Buddha tidur. Kami melanjutkan perjalanan ke Candi Brahu. Trowulan panas bukan main, kamipun menyeruput es tebu depan candi ini bersama bapak-bapak ojek tadi. Panas mulai dilawan dengan kesegaran es tebu.

Candi Brahu

Seperti biasa, datang ke candi hanya untuk mengambil gambar, mengamati secara seksama struktur bangunan, hingga warna bata yang digunakan. Ternyata candi ini cukup menarik perhatian, seperti punya pintu besar di atas tapi sayang tidak boleh naik.


Perjalanan siang itu bukan pilihan yang tepat untuk menikmati keseruan candi di Trowulan karena memang udaranya sangat panas. Tapi tak apalah, perjalanan dilanjutkan ke Lawang Wringin. Kamipun bersantai sejenak dan keliling sekitar lawang.

Lawang Wringin



Jelang pukul 12 siang. Untuk memenuhi lapar informasi, kami melaju ke museum Majapahit atau sebagai penutup perjalanan di Trowulan. Di museum ini, kita tak hanya mendapat informasi sepuar candi tetapi semua hal peninggalan Majapahit ada di sana. Tak heran, tamu dalam dan luar negeri selalu meramaikan museum ini. Anak-anak sekolah juga diajak untuk menimba ilmu sejarah di tempat ini.

Posting Komentar

Start typing and press Enter to search